Pagi itu di kantor penerbitan JustFor, udara terasa lebih berat daripada biasanya. Bagi Ariel, setiap langkah kaki yang ia ayunkan di atas karpet koridor terasa seperti dentuman palu hakim. Ia berharap badai gosip kemarin akan mereda, namun kenyataannya justru sebaliknya. Fenomena "Ariel Sang Prioritas" telah mengubah ekosistem kantornya menjadi hutan yang penuh dengan predator yang berpura-pura menjadi pelayan."Pagi, Ariel! Ini, kopi latte kesukaanmu. Tadi aku sekalian beli di bawah," ujar Sarah, rekan kerja yang biasanya hanya menyapa dengan anggukan kaku, kini meletakkan cup kopi mahal di meja Ariel dengan senyum yang terlalu lebar hingga matanya menyipit."Terima kasih, Sarah. Tapi aku sudah bawa minum sendiri," jawab Ariel berusaha sopan, meski rasa mual mulai merayap di perutnya."Oh, tidak apa-apa! Simpan saja. Dan, hey, kalau kau butuh bantuan untuk riset naskah barumu, jangan sungkan ya? Aku punya banyak waktu luang minggu ini." Sarah mengedipkan sebelah matanya sebelum berl
Last Updated : 2026-02-20 Read more