Malam semakin larut, villa Blankenese kembali sunyi setelah makan malam. Lampu-lampu mulai diredupkan. Dan satu per satu orang kembali ke kamar masing-masing. Di luar, mesin mobil Paul baru saja menyala. Namun sebelum mobil itu sempat bergerak, Daniel keluar dari pintu utama. “Paul.” Suara itu membuat Paul langsung mematikan mesin. Ia keluar dari mobil. “Iya, Tuan.” Daniel berjalan mendekat. Tangannya masuk ke saku celana. Wajahnya tenang. Namun tatapannya, tajam seperti biasa. “Ada yang ingin saya bicarakan,” kata Daniel. Paul langsung berdiri lebih tegak. “Tentu.” Beberapa detik hening. Angin malam berhembus pelan. “Kamu semakin sering ke sini akhir-akhir ini,” ujar Daniel. Paul tidak menyangkal. “Iya.” Daniel menatapnya. “Bukan hanya karena pekerjaan.” Paul diam. Namun kali ini ia tidak menghindar. “Benar,” jawab Paul akhirnya. Daniel mengangguk pelan. Seolah sudah tahu. “Ayu.” Satu nama itu cukup. Paul menarik napas. “Iya.” Daniel berjalan sedikit m
Read more