Alingga menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Rasanya sangat ingin meledak saat itu juga, tetapi coba ditahan sebentar mengingat sedang bersemuka dengan orang tua. Bahkan mantan calon mertua. Meski dirinya perempuan yang suka merasa iba, tetapi jika sudah berkhianat, jangan harap berakhir damai. Tidak menyangka, Hanan begitu egois. “Wah, calon istri. Benarkah?!” pekik Ibunya dengan mata melebar. Menatap suaminya, Hanan, dan Alingga bergantian. “Alingga bukan orang jauh, kan? Lantas, istrimu yang dari luar pulau itu bagaimana, Hanan?” tanya ayahnya Hanan dengan suara bariton. “Sakit Amira sudah sangat parah, Pa.” Hanan berkata lirih dan setengah mengeluh. Ayahnya menarik rambut sendiri sebelum berbicara. “Bukan kami tega, Han. Tetapi Itu konsekuensi kamu sebagai lelaki telah berani ambil resiko. Sudah resiko, kamu telah mengecewakan orang tua. Bukankah waktu itu kamu lebih memilihnya daripada kami? Dari awal, kami tidak setuju sebab dia dari tempat jauh.
Last Updated : 2026-01-21 Read more