Hanan mengajaknya makan memang bertujuan untuk mengisi perut saja. Sedikit khayalan romantis mendapat cincin indah sebagai simbol lamaran, kemungkinan hanya mimpi belaka untuknya. “Makanlah yang banyak, Ling. Habis ini, aku ingin kita bicara hal penting. Dengan makan cukup, kuharap kamu akan tenang.” Hanan terlihat gelisah saat berbicara. Di akhir suaranya terdengar desah seperti menahan sesak jiwa. “Mas, kamu bikin aku penasaran. Kenapa nggak bicara sekarang saja, sambil makan. Lagian bicaranya sama aku aja, kan? Justru sambil makan, pasti bisa lebih tenang.” Alingga berbicara dengan pelan. Coba membujuk Hanan agar segera bicara. “Kita berbincang bukan di sini, Ling,” Hanan menegaskan, nadanya mantap seolah tak memberi ruang tawar. Alingga menatapnya sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Iya, Mas. Baiklah.” Ia paham, keputusan lelaki itu sudah bulat. Tak ada lagi celah untuk mengguncang tekad Hanan yang kini kembali lanjut fokus pada makanannya. Lagipula, rasanya tid
Zuletzt aktualisiert : 2026-01-09 Mehr lesen