"Tentu saja belum, kamu ingin hamil, kan, Sayang? Jalan kita masih panjang." Aaron masih memeluk Sherry dari belakang, menyatukan tubuh mereka tanpa celah. Dia menyandarkan dagunya di bahu Sherry yang halus, menghirup aroma tubuh wanita itu yang kini bercampur dengan aroma maskulinnya sendiri—sebuah perpaduan yang memabukkan dan primitif. Tangan Aaron yang besar dan berurat mulai bergerak lagi, membelai lembut perut Sherry yang rata, naik perlahan dengan gerakan menggoda hingga ujung jemarinya menyentuh detak jantung Sherry yang masih berdegup kencang di balik dadanya. "Aaron..." bisik Sherry. Suaranya pecah, serak oleh kelelahan yang terasa sangat manis, tapi ada nada antisipasi di sana. "Apa, Sayang ....""Kupikir kamu sudah lelah." "Lelah karena apa?" balas Aaron dengan tawa kecil yang hangat di belakang telinganya. "Kamu pikir aku bisa tidur setelah merasakan kenikmatan ini, Sherry sayang?""Ah, tapi, tapi....""Kita lanjut lagi, satu ronde tidak cukup," potong Aaron, samb
Read more