"Ibumu butuh tempat perawatan yang lebih baik, Sherry," jawab Aaron lembut, menuntun wanita itu menuju tangga helikopter. "Dan tempat ini... tempat ini sudah tidak aman lagi. Ayah kita mungkin sudah kehilangan kekuasaannya, tapi luka yang ia timbulkan masih segar. Kita butuh waktu untuk menyembuhkan semuanya, jauh dari bayang-bayang mereka." Sherry menoleh sekali lagi ke arah gedung rumah sakit yang menjulang. Ia membayangkan ayahnya yang terusir, kakaknya yang dipermalukan, dan Jayden yang pergi dengan kemarahan. Hatinya sakit, bukan karena mencintai mereka lagi, tapi karena sedih melihat bagaimana ambisi dan keserakahan bisa menghancurkan sebuah keluarga. Namun, ketika ia menatap Aaron, rasa sakit itu perlahan tergantikan oleh kehangatan dan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Aku... percaya padamu, Kak," ucap Sherry, menggenggam erat tangan pria itu. "Ke mana pun kamu mau membawa aku, aku akan ikut." Aaron tersenyum, senyum yang tulus dan penuh janji. Ia
Read more