Rumah itu terasa terlalu hening. Seolah semua suara ikut terbawa keluar ketika Lilith menutup pintu—keras, tajam, dan penuh amarah. Aerin masih terduduk di lantai dapur, punggung menempel pada kabinet, napasnya tersengal-sengal. Tangannya gemetar hebat; bukan hanya karena ketakutan tadi, tapi juga malu—malu karena dia menyaksikan semuanya, termasuk hancurnya pernikahan orang lain. Ronn berdiri tidak jauh darinya, bahunya naik turun cepat. Amarahnya belum padam, tapi arahnya bukan ke Aerin. Tanpa bicara, ia meraih siku Aerin. “Bangun.” Suaranya rendah, menahan sesuatu yang hampir meledak. Aerin menurut, walau lututnya masih goyah. Ronn mendudukkan Aerin di kursi dapur tanpa menyalakan lampu—ruangan tetap gelap, hanya diterangi cahaya putih dari kulkas yang sedikit terbuka. Ia mengambil kotak P3K. Mengeluarkan sebuah salep. “Tidurmu nyenyak?” tanya Ronn tanpa menatapnya. Ia sibuk membuka salep. Aerin menelan ludah, memalingkan wajahnya yang memerah. Dia tak mengerti, kena
Last Updated : 2025-12-09 Read more