“Oh, shit.”Aerin terbangun dengan sensasi pahit di ujung lidahnya. Bukan rasa ciuman. Bukan juga panas tubuh Ronn.Alkohol.Aroma itu masih tertinggal di hidungnya—menusuk, getir, membuat perutnya sedikit bergejolak. Ia memejamkan mata, berharap kesadaran akan kembali runtuh, tapi tubuhnya justru mengingat terlalu banyak.Kilasan semalam datang tanpa izin.Napas Ronn yang berat di lehernya. Nada suaranya yang serak, mabuk, nyaris tak terkendali. Cara lidahnya menyentuh lambat, menuntut—seolah tak peduli pada logika, hanya insting.Aerin membalikkan badan dengan cepat. Ada denyut halus yang membuatnya kesal pada dirinya sendiri.“Aku benci bau alkohol,” gumamnya pelan. Tapi tubuhnya tidak sepenuhnya setuju.Bayangan semalam masih teringat jelas…***‘I said quite.’Saat itu, Ronn mengulum paksa bibirnya, bahkan menggigitnya hingga berdarah.Aerin berusaha berontak, mendorong dada Ronn. Tapi perbandingan tubuh besar Ronn dengannya jelas membuat pria itu bergeming.“Kau tidak bisa begit
Last Updated : 2025-12-21 Read more