“Keduanya masuk hotel itu—bersama. Jam delapan tiga puluh. Mereka memesan makanan, minuman… lampu kamar dimatikan.” Tubuh Aerin kaku. Napasnya tersengal. Perutnya yang kosong, rasa sakit yang ia tahan, kini berubah menjadi pingsan hampir tak terkendali. Lututnya lemas, dan ia merosot ke lantai. Tangisnya pecah, tapi tak ada suara yang keluar—hanya gemetar hebat. Saat Ronn hendak melangkah masuk, tangan Aerin melemah. “Aerin!” suaranya keras, panik. Ia segera menangkap tubuh Aerin. Tiba-tiba, seseorang berlari dari lorong, dengan suara ketukan sepatu hak tingginya yang nyaring. Liz muncul, wajahnya pucat. “Dr. Nathaniel… apa yang terjadi?!” Ronn menunduk, dengan cepat menggendong Aerin. Ia berjalan terburu ke mobil, tak peduli dengan Liz yang berlari menyusulnya. Begitu ia meletakkan gadis itu dengan aman di mobilnya, ia bergegas menyalakan mesin mobil. “Dr. Nathaniel, saya ikut—” Belum selesai Liz bicara, Ronn sudah menginjak pedal gasnya, meninggal Liz yang panik. Liz se
Last Updated : 2025-11-28 Read more