Rasya menunggu dengan sabar. Ia mengusap pipi Aurora dengan ibu jarinya, memberikan kecupan-kecupan kecil di bibir untuk mengalihkan fokus rasa sakit itu. "Nggak bisa... nggak muat..." rintih Aurora panik, air mata mulai menggenang. Rasa perih akibat regangan itu mendominasi, membuatnya takut. "Rasya, please, berhenti..." Rasya menelan ludah kasar. Ia tahu jika ia berhenti sekarang, mereka tidak akan pernah melakukannya. "Nggak, Baby. Kita pelan-pelan," bisik Rasya lembut. Rasya mengubah taktiknya. Ia mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan gerakan mikro—sangat, sangat pendek. Rasya hanya menekan ujungnya masuk sedikit, lalu menariknya lagi, mencoba melunakkan jalan masuk itu inchi demi inchi. "Eughhh..." erang Aurora, kepalanya mendongak. Rasa perih itu masih ada, tapi gerakan Rasya yang menggoda mulai memancing sensasi lain. "Rileks, Aurora... buka buat aku, Baby," bujuk Rasya. Tangannya turun ke pertemuan paha Aurora, mengusap paha bagian dalam istrinya, mencoba melemas
Última actualización : 2025-12-11 Leer más