"Karena aku kecewa," jawab Rasya pelan.Tatapannya kini menerawang jauh ke langit berbintang, seolah layar bioskop masa lalu sedang berputar di sana, menampilkan malam pertama pertemuan mereka.Malam itu, Rasya melangkah ke private room restoran dengan langkah mantap. Ketika masuk, ia sudah siap ingin langsung menyapa. Namun, tangannya melayang di udara ketika melihat pemandangan di depannya.Seorang wanita dalam balutan gaun maroon yang elegan. Cahaya temaram restoran seolah pilih kasih, hanya menyorot wajahnya. Wanita itu sedang menatap keluar jendela, lalu tersenyum kecil—entah pada siapa, entah memikirkan apa.Seketika, suara denting garpu dan obrolan samar di restoran itu lenyap dari telinga Rasya. Jantungnya, yang biasanya tenang dan terkontrol, berdetak satu ketukan lebih cepat.Dia... sangat cantik. Bukan hanya fisik, tapi ada aura anggun dan rapuh sekaligus di sana.'Inilah waktunya,' batin Rasya saat itu, sebuah k
Última actualización : 2025-12-17 Leer más