"Anak Ibu sudah pulang. Capek ya, Nduk? Yuk, cuci tangan, cuci kaki, terus bobo siang," bujuk Sulastri lembut, menuntun Gendhis masuk ke dalam rumah.Rudi memarkirkan motor, mengunci gembok pagar, lalu melangkah menyusul istri dan anaknya. Debu proyek dari jalan utama masih menempel tebal di jaketnya, namun pikirannya sudah melesat jauh meninggalkan urusan perbengkelan.Setengah jam kemudian, setelah memastikan napas Gendhis teratur di bawah embusan kipas angin kamar, Sulastri menutup pintu rapat-rapat. Ia berjalan ke ruang tengah. Suaminya sudah duduk menunggunya di atas karpet plastik, bersandar pada meja TV reyot.Di atas meja kecil, dua gelas teh tawar hangat dibiarkan utuh. Udara di ruangan itu terasa berat, sisa-sisa ketegangan yang tertahan sejak insiden sarapan tadi pagi kini menuntut untuk diurai.Sulastri duduk bersila di hadapan suaminya. Tatapannya lurus, tanpa sisa senyum ramah yang ia pakai seharian di warung."Gendhis pulas," lapor Sulastri pelan. Ia langsung merangsek
Read more