LOGINDalam rumah tangga Arka dan Clara yang retak, hadirnya Nia sang pembantu cantik bagai angin segar. Tapi di balik senyumannya tersimpan dendam terselubung terhadap Clara. Ketika godaan dan kesepian mempertemukan Arka dan Nia di ambang pengkhianatan, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa? Sebuah kisah tentang cinta, balas dendam, dan pilihan-pilihan yang mengubah segalanya. Akankah Nia berhasil menghancurkan rumah tangga mereka, atau justru jatuh cinta pada suami wanita yang ingin dihancurkannya?
View MoreSenja merayap turun di Menteng. Langit Jakarta kelabu, seperti enggan bergerak sejak tadi pagi.Di kamar utama Kediaman Barata, Tante Maya akhirnya tertidur lelap. Dokter Handoyo telah menyuntikkan obat penenang ringan pasca-insiden di ballroom tadi siang. Jantung wanita itu selamat berkat Nia dan tim medis yang diam-diam disiapkan Arka.Arka berdiri di ambang pintu, menatap wajah pucat bibinya. Nia yang duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan wanita itu, menoleh dan memberikan senyum tipis. Semua terkendali. Arka mengangguk, lalu menutup pintu perlahan.Langkahnya menyusuri lorong menuju ruang keluarga di lantai bawah. Dasi kupu-kupu sudah ia longgarkan, jas tuxedo pun telah dilepas. Lelah luar biasa merayapi ototnya, tapi ada kepuasan absolut di dadanya. Eksekusi tadi siang berjalan sempurna. Bella dipermalukan, ditangkap. Dimas selamat dari pernikahan beracun itu.Di ruang keluarga, Dimas duduk mematung di sofa. Segelas air putih di atas meja tak sedikit pun ia sentuh. Pandangann
"TIDAAAK...!"Jeritan itu merobek keheningan Grand Ballroom Hotel Ritz-Carlton. Suaranya melengking, penuh kepanikan yang tak bisa disembunyikan lagi.Arka berdiri tegap di barisan depan area VVIP. Tangan di saku celana tuxedo hitam. Wajahnya datar. Tidak ada keterkejutan. Hanya ada kepuasan yang ditahan rapat-rapat.Di atas altar yang dihiasi ribuan mawar dan lili putih, prosesi pernikahan mati sebelum dimulai.Penghulu yang tadi memegang mikrofon kini membeku. Dan di belakangnya, layar proyektor raksasa yang seharusnya menampilkan video romantis Dimas dan Bella menayangkan sesuatu yang sama sekali berbeda.Rekaman CCTV lorong penjara. Gerak lambat. Sosok Bella dalam gamis abu-abu, menurunkan masker, tersenyum lebar saat memeluk Clara Puspita di ambang pintu sel VIP.Kualitas video itu jernih. Sangat jernih. Tidak ada ruang untuk sanggahan.Di altar, Bella merosot jatuh.Lututnya membentur lantai pualam dengan bunyi keras. Gaun broken white bertatahkan ribuan kristal itu mengembang di
Kurang dari dua belas jam sebelum hari yang sudah ditunggu.Di ruang kerja pribadi Arka, lampu utama mati. Hanya lampu meja yang menyala, memendar kuning temaram. Di luar jendela, hujan deras mengguyur Jakarta. Kilat sesekali menyambar, menerangi ruangan sekilas lalu kembali gelap.Denting es batu di gelas kristal memecah keheningan.Arka menuang Macallan ke dua gelas. Ia berjalan pelan melintasi karpet, menyodorkan satu ke Dimas yang berdiri mematung di depan jendela."Minum. Biar rahangmu nggak kaku terus."Dimas menoleh. Wajahnya kuyu, tapi matanya berbeda. Ada kilat buas di sana yang belum pernah Arka lihat. Pemuda naif yang dulu memuja Bella sudah mati. Yang berdiri di sini sekarang adalah keturunan Barata yang sesungguhnya.Dimas menerima gelas, menggoyangnya pelan, lalu meneguknya habis dalam satu tarikan. Panas wiski membakar tenggorokan pelarian kecil dari rasa muak yang mengendap di dadanya."Makasih, Kak." Ia meletakkan gelas kosong ke atas meja, mengusap wajah dengan kasar
Dering ponsel memecah keheningan ruang kerja.Selasa siang. Tiga hari sebelum pernikahan. Arka baru saja selesai meeting virtual, matanya masih lelah menatap layar. Tapi begitu melihat nama di layar ponsel Dimas, ia langsung fokus.Bella Sayang, dengan emoticon hati merah.Dimas menatap ponselnya seperti melihat ular. Jakunnya bergerak.Arka menyandarkan punggung, melipat tangan. Seringai tipis mengembang."Angkat." Suaranya rendah. "Dengar bagaimana tikus itu meronta."Dimas menarik napas. Rahangnya mengendur. Mata penuh kebencian diredupkan. Topeng kekasih kembali terpasang.Jarinya menggeser ikon speaker."Halo Sayang? Tumben siang-siang telepon. Udah makan?" Suara Dimas hangat, penuh perhatian. Akting sempurna.Di seberang, tarikan napas tertahan."Ha... halo, Mas Dimas." Suara Bella berusaha manja. Tapi Arka menangkap getar di sana. Ketergesaan. Kepanikan yang dikubur di bawah gula-gula. "Mas lagi sibuk? Maaf kalau ganggu.""Nggak kok. Baru selesai cek kontrak." Dimas menatap Ark


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.