Tangan Sulastri dengan lincah memotong ketupat menggunakan pisau dapur, mengambil sejumput tauge dan mi kuning, meletakkannya di atas piring, lalu mengguyurnya dengan kuah tauco panas yang kental. Ia menaburkan kerupuk merah sebagai pelengkap sebelum menyajikannya.Dari posisinya duduk di dekat pagar, Arka mengamati seluruh interaksi itu dengan kacamata intelijen.Ia memperhatikan ekspresi Mang Udin saat menyuapkan sendok pertama ke dalam mulutnya. Pria paruh baya itu membelalakkan matanya sedikit, lalu mengunyah dengan penuh nikmat."Buset, Bu Lastri! Ini mah enak pisan! Bumbu tauconya medok, dagingnya kerasa gurih," puji Mang Udin tulus, langsung menyuap sendok kedua dengan lahap. "Kalah ini mah Geco yang di pertigaan pasar!"Mendengar testimoni langsung dari warga lokal itu, beberapa ibu-ibu yang awalnya hanya melihat-lihat dari jauh akhirnya ikut mendekat."Wah, masa sih, Mang? Jadi ikutan ngiler saya," sahut Bu Ningsih, ibu dari Rara teman sekolah Gendhis, yang ikut menepi. "Bu L
Ler mais