Sekretaris Sonia kemudian memanggil seorang asisten wanita. Keduanya pun menyeret wanita itu keluar.Pintu kantor tertutup dan keheningan kembali menyelimuti.Tristan menundukkan pandangannya. Suaranya dingin, "Masih nggak mau keluar?"Kiana bersembunyi di bawah meja. Tadinya dia masih sibuk menyaksikan tontonan seru, tetapi begitu mendengar wanita itu menangis tersedu-sedu, dia merasa sedih dan bahkan sedikit marah."Kalian makan bersama, minum bersama, berjalan-jalan, nonton film bersama, dan menikmati semilir angin laut… Kalian sudah melakukan banyak hal, tapi kamu bilang kamu nggak mengenalnya!"Tristan mengusap dahinya. "Kami ada begitu banyak orang, bukan hanya dia seorang saja!""Kamu pasti perlakukan dia secara istimewa.""Nggak ada.""Pasti ada!""Kiana, kalau aku bilang nggak, ya berarti nggak. Aku nggak akan berbohong padamu!"Kiana mendengus dingin, tetapi setelah mendengus, dia menyadari ada yang salah. Nada bicaranya terdengar seperti tuduhan, sementara nada suara Tristan
Baca selengkapnya