Saat Kiana dan ayahnya keluar dari mobil di depan Hotel Oasis, Pak Ishan dan Tristan langsung menyambut mereka.Pak Ishan meraih tangan ayahnya Kiana dan menepuk tangannya dengan keras. "Kak, akhirnya kamu datang juga!"Ayahnya Kiana masih diam, tetapi Pak Ishan terlalu antusias, seolah-olah ini bukan pertama kalinya mereka bertemu, melainkan seorang teman lama yang telah dikenalnya selama beberapa dekade. Pak Ishan langsung menariknya masuk."Karena kamu sudah di sini, jangan pulang lagi. Kebetulan kita berdua bisa saling menemani!"Pak Ishan menarik ayahnya Kiana berjalan beberapa langkah, lalu teringat sesuatu. "Oh ya, ini putraku, menantumu. Tristan, kemarilah dan panggil Ayah."Tristan tidak pintar bersosialisasi seperti ayahnya, jadi dia sempat kesulitan untuk memanggil ayahnya Kiana.Kiana hendak maju untuk membantunya, tetapi dia mendengar Tristan berdehem sebentar, lalu berkata, "Ayah, aku Tristan. Mohon bimbingannya!"Sambil berbicara, Tristan pun melangkah maju, membungkuk,
Read more