Aku menutup mata sesaat, membiarkan angin segar menerpa kulit dan menggoyangkan tipis rambutku.Pemandangan Tuan Adrian dan Nyonya Vanya yang berdiri berdampingan tadi masih melekat jelas di kepalaku. Wajah mereka datar, sikap mereka seolah tidak terusik oleh kematian seseorang yang begitu penting dalam hidup mereka.Sungguh, aku tidak sanggup berlama-lama di sana.Tuk ... tuk ... tuk ....Langkah sepatu terdengar mendekat dari belakang.“Melati.”Aku membuka mata. Suara itu tidak asing.Aku berbalik perlahan.Kak Arga.Ia berdiri beberapa langkah di depanku. Tubuhnya tegak, sorot matanya masih keras seperti terakhir kali kuingat.Hanya saja, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Rahangnya memang masih mengencang, tetapi amarah yang biasa menyertai kehadirannya kini tertahan, seolah ditekan oleh sesuatu yang jauh lebih berat.“Kak Arga ...,” panggilku lirih.“Aku tidak ingin mengganggumu,” ucapnya lebih dulu, seakan khawatir kehadirannya akan menambah bebanku.Ia lalu menambahkan, “Aku t
Last Updated : 2026-01-17 Read more