Aku kembali ke kamarku, mengurungkan niat untuk makan malam. Tubuhku terasa lelah, tetapi pikiranku terlalu gaduh untuk sekadar berbaring. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap jendela yang masih basah oleh sisa hujan.Hujan di luar memang sudah mulai reda. Namun di dalam diriku, kegelisahan justru semakin pekat.Sosok Kak Arga kembali terlintas di benakku. Raut wajahnya saat pergi tadi, cara ia menahan diri, semua itu menekan dadaku pelan-pelan. Rasa bersalah masih ada, dan mungkin akan selalu ada. Namun, aku tahu, membiarkannya pergi adalah pilihan yang paling jujur.Aku tidak bisa membiarkannya berharap padaku. Aku tidak sanggup menjadi seseorang yang memberinya harapan palsu, lalu menghancurkannya perlahan.Akan tetapi, semakin aku mencoba menenangkan diri dengan pikiran itu, semakin jelas satu nama lain mendominasi kepalaku.Tuan Adrian.Hubunganku dengannya tidak bisa terus seperti ini, dingin, penuh jarak, dan dipenuhi kesalahpahaman yang dibiarkan menggantung. Aku tidak taha
Última actualización : 2026-01-04 Leer más