Kemudian, Rafael berdiri dan berkata pada Shanaya, "Tunggu aku di sini dan jangan bergerak."Tanpa menunggu jawaban Shanaya, Rafael berbalik dan pergi dengan cepat.Melihat punggung jangkungnya menghilang di sudut koridor, perasaan Shanaya agak campur aduk. Sepertinya, dia makin banyak berutang budi pada pria itu.Beberapa saat kemudian, Rafael kembali dengan membawa beberapa botol air mineral yang dibekukan dan handuk tipis bersih yang dibeli di toko suvenir kuil. Dia duduk di samping Shanaya, lalu membungkus botol air itu dengan handuk agar bisa membuat kompres dingin sederhana."Mungkin agak dingin. Tahan sebentar," kata Rafael. Kemudian, dia dengan lembut menempelkan kompres dingin itu ke pergelangan kaki Shanaya yang bengkak.Shanaya tersentak akibat sensasi dingin yang tiba-tiba itu. Namun, sensasi dingin itu segera menghilangkan rasa nyeri yang membakar. Dia benar-benar merasa jauh lebih baik."Rafael, terima kasih," ucap Shanaya dengan suara rendah.Tangan Rafael yang memegang
Read more