Lantai gudang yang berdebu itu menjadi saksi bisu tarian maut yang dimainkan Wulan. Ia melesat di antara mesin-mesin tua yang berkarat, gerakannya luwes seperti asap yang sulit ditangkap tangan.Setiap kali Boris mencoba menerjang, Wulan hanya perlu meliukkan pinggulnya sedikit ke samping, membiarkan tinju besar pria itu menghantam udara kosong."Katanya mau mengulitiku? Coba saja sini kalau bisa."Wulan berputar, kain blouse-nya yang tipis kini menempel di punggung yang basah oleh keringat, memperlihatkan lekuk tulang belikatnya yang jenjang.Ia sengaja memperlambat langkahnya sejenak, membiarkan Boris melihat bagaimana rok mininya terangkat tinggi saat ia meloncati tumpukan kabel."Diam kau, Jalang!" Coy, tutup jalan sebelah kanan! Jangan biarkan dia terus meliuk-liuk seperti belut!"Boris mengusap peluh yang menetes ke matanya, napasnya memburu berat seperti banteng yang terluka. Wajahnya merah padam, gairah hitam dari tubuhnya memancar semakin pekat, seolah-olah kemarahannya telah
Terakhir Diperbarui : 2026-02-08 Baca selengkapnya