Wulan mengusap sudut matanya yang kering, memaksakan kerutan sedih di keningnya yang mulus. Dia melirik tanda pengenal plastik yang kusam tergantung miring di dada pria itu, bertuliskan satu nama dalam huruf kapital yang mulai memudar: JONO."Tolong saya, Pak Jono. Saya mohon..."Jono tersentak, puntung rokoknya hampir saja menyentuh ujung jarinya yang kapalan. Ia menatap Wulan dari ujung kaki hingga kepala, matanya yang keruh menyusuri setiap lekuk tubuh di balik celana kulot lebar dan blouse krem yang tipis itu."Siapa kamu? Area ini bukan untuk umum, Neng. Penumpang lift lewat sana, bukan lewat tempat sampah."Jono memberikan isyarat dengan dagunya ke arah lorong utama, namun ia tidak benar-benar mengusir Wulan. Matanya justru tertahan pada kancing atas blouse Wulan yang terbuka, memperlihatkan gumpalan daging putih yang tidak tertutup bra."Saya tahu, Pak. Tapi saya tidak punya pilihan lain. Pacar saya... dia ada di atas. Di lantai lima."Wulan merapatkan tubuhnya, membiarkan arom
Terakhir Diperbarui : 2026-01-20 Baca selengkapnya