Wulan menarik napas panjang, membiarkan dadanya yang padat membusung hingga kain sutra merah itu menegang di titik-titik puncaknya. Ia meletakkan gelas kristal berisi anggur merah yang sejak tadi ia putar-putar, menyisakan jejak cairan kemerahan di bibirnya yang basah. Matanya yang sayu menatap William Sanjaya, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan ketenangan yang menghanyutkan."Tawaran Tuan adalah mimpi bagi banyak wanita di kota ini. Hidup di istana, dikelilingi kemewahan, dan mendampingi nona secantik Sovia..."Wulan menghentikan kalimatnya, lidahnya menyapu bibir bawah dengan gerakan yang sangat lambat, membuat William menelan ludah tanpa sadar. Ia melirik Sovia yang menatapnya penuh harap, lalu beralih ke arah Mbah Broto yang duduk di sampingnya dengan wajah penuh kemenangan."Namun, saya harus menolaknya, Tuan William. Setidaknya untuk saat ini."Senyum di wajah William memudar, digantikan oleh kerutan tipis di dahi. Ia meletakkan garpu peraknya di atas piring porselen denga
Terakhir Diperbarui : 2026-02-12 Baca selengkapnya