Kerumunan orang menonton Darlene.Namun, Darlene hanya menatap Malcolm, padahal kedua matanya sudah kabur oleh air mata yang bergulung hingga tak dapat melihat apa pun dengan jelas.Dengan langkah tenang tanpa tergesa-gesa, Malcolm berjalan ke hadapan Darlene, lalu mengulurkan tangan untuk menghapus air mata di sudut matanya."Kenapa sampai nangis ...." Suaranya terdengar merdu, seperti angin yang ringan, juga seperti air yang jernih.Suara itu bertumpuk dengan suara dalam ingatan Darlene. Jantung Darlene berdebar kencang, seolah-olah melonjak sampai ke tenggorokan."Benaran ... ini kamu? Aku benar-benar ... nggak lagi mimpi, 'kan?" Meskipun kenyataan terpampang di depan mata, Darlene tetap tak berani percaya."Ini aku." Suara Malcolm tetap selembut biasanya, tetapi nadanya sangat pasti. "Benaran aku, Malcolm."Begitu kata-kata itu selesai terucap, Darlene langsung memeluk Malcolm yang berdiri di depannya, memeluknya erat-erat.Pemandangan ini mengejutkan para penonton, mengejutkan Gia
Read more