"Paman!" Kaget Aziel melihat pamannya terantuk kusen pintu. "Kamu tidak apa-apa, Paman?""Ahhh," Arhan menggeleng dengan mengusap keningnya. "Tidak, aku hanya sedikit mabuk kendaraan tadi. Kamu sejak kapan di sini?" Ziana meringis dengan berjalan sedikit berjarak di belakang. "Paman mabuk kendaraan? Kok, tumben?" Aziel mengerutkan keningnya. "Jadwal kerja Pak Arhan sangat padat, ditambah cuaca yang cukup ekstrem sejak kemarin. Jadi wajar Pak Arhan kurang fit," jawab Ziana cepat. "Pak Arhan, mari kubantu ke kamar," ujar Ziana memapah lengan lelaki itu. Arhan mengangguk, dia berjalan dengan sedikit membungkuk dan memijat pelipisnya. "Ziana, kamu tidak perlu reflek spontan seperti tadi. Bagaimana jika aku mengalami gegar otak? Kamu sungguh bertenaga." Ziana terkekeh pelan, "maaf Pak Arhan. Aku hanya kaget, suara Aziel seperti petir." "Ziana, cepatlah antar Paman ke kamarnya Dia pasti sangat pusing. Aku akan menunggumu di ruang tengah, nanti kita ngobrol ya?" Permintaan Aziel me
اقرأ المزيد