Saat mobil berhenti di depan hotel, cahaya matahari senja sudah menghangatkan wajah masamnya.Pelayan hotel melangkah maju untuk membukakan pintu.Keduanya turun dari mobil bersama. Tanpa sadar, Renee menyampirkan tangan kecilnya ke lengan Arvin dengan lembut.Ini pertama kalinya dia mendampingi Arvin menghadiri jamuan makan malam. Di dalam hatinya, tentu ada sedikit rasa gugup.Namun, dia juga bukan tipe orang yang canggung secara sosial. Setidaknya, dia masih bisa tampil tenang, anggun, dan pantas.Begitu mereka memasuki aula acara, rasanya seperti sebuah batu dilempar ke danau yang tenang, memicu riak berlapis-lapis.Orang-orang di dalam ruangan serempak menoleh, lalu satu per satu mulai berbisik-bisik. Di tengah hiruk-pikuk suara itu, Renee samar-samar mendengar beberapa perempuan yang penasaran berbicara dengan nada meremehkan."Jadi dia itu istri Arvin yang tuli itu ya?""Ya, wajahnya lumayan cantik juga.""Cuma karena riasan. Siapa sih yang nggak kelihatan cantik kalau dandan?"
Leer más