Keesokan Paginya, Ara bangun dengan mata bengkak. Dia menangis hampir sepanjang malam—menangis untuk kakaknya, untuk pengkhianatan Zevian, untuk kebohongan Zayn, dan untuk anak yang sekarang tumbuh di dalam perutnya.Ketukan pelan di pintu membuatnya tersentak."Ara." Suara Zayn. Lembut, hati-hati. "Aku sudah siapkan sarapan. Dan... kita perlu bicara."Ara menatap pintu dengan perasaan berat. Dia tidak ingin bertemu Zayn. Tapi dia juga tau—mereka tidak bisa terus seperti ini.Dengan langkah berat, dia membuka pintu.Zayn berdiri di sana dengan wajah yang terlihat sama lelahnya dengan Ara—mata sembab, rambut berantakan, baju yang sama seperti kemarin. Sepertinya dia juga tidak tidur.
Terakhir Diperbarui : 2026-02-05 Baca selengkapnya