LOGINDua Tahun Lalu
"Ara, serius, kamu harus ikut."
Ara memutar bola matanya saat Zevian—sahabat sekaligus partner konten favoritnya—menarik lengannya dengan antusias. Mereka sedang berdiri di depan kafe langganan mereka, sore hari yang cerah dengan langit berwarna oranye keemasan.
"Aku nggak suka acara
Rumah Sakit Bunda Jakarta, ruang emergency. Ara di-rush masuk dengan kursi roda, Zayn berlari di sampingnya sambil pegang tangannya erat."Nyonya Alaric, kondisi Anda sekarang?" Dr. Anita—obgyn Ara—muncul dengan cepat, langsung cek tanda vital."Kontraksi... lima menit sekali... air ketuban udah pecah..." Ara tersengal-sengal, pegang perutnya yang kram hebat. "Tapi ini terlalu cepat, Dok! Aku baru 34 minggu!"Dr. Anita menatapnya serius. "Persalinan prematur. Kita harus lihat kondisi bayi dulu. Segera ke ruang pemeriksaan."Ruang pemeriksaan. Ara berbaring di ranjang dengan mesin USG di sampingnya. Zayn berdiri di sebelahnya, tangannya gemetar saat menggenggam tangan Ara.Dr. Anita menggerakkan probe USG di perut Ara dengan
Starbucks Plaza Indonesia jam 1:45 siang. Ara duduk di pojok dengan tangan memegang cup latte decaf—karena caffeine is a no-go untuk ibu hamil—dan mata scanning setiap orang yang masuk.Zayn duduk dua meja di belakangnya, pakai hoodie dan kacamata hitam seperti intel murahan. Ara hampir ketawa waktu lihat dia. Tapi sekarang bukan waktnya.Jam 2 tepat, seorang pria masuk.Tinggi, mungkin 185 cm. Berkulit tan, rambut dark blonde yang rapi, mata biru-grey yang dingin. Setelan jas Armani yang perfectly tailored. Wajahnya... tampan, dalam arti yang intimidating. Ada aura power di sekeliling dia.Matanya langsung menemukan Ara.Dia tersenyum—senyum yang tidak sampai ke matanya—dan berjalan mendekat."Nyonya Alaric." Dia mengulurkan tangan. "Ian Harrington."Ara menjabat tangannya dengan tegas. "Mr. Harrington. Atau... boleh aku panggil Ian?""Silakan." Ian duduk di depannya, memesan espresso dengan gaya santai
Tiga bulan setelah Bali, Ara berdiri di depan cermin kamar dengan tangan memegang perut yang sudah sangat besar—8 bulan. Hampir waktunya. Tapi kali ini, dia nggak takut lagi. Karena dia nggak sendirian."Kamu yakin mau keluar hari ini?" Zayn muncul di belakangnya lewat pantulan cermin, tangannya melingkar protektif di pinggang Ara. "Dokter bilang kamu harus istirahat."Ara tersenyum tipis. "Aku udah istirahat tiga bulan di Bali, Zayn. Aku bukan porselen yang akan pecah kalau kena angin.""Tapi—""Tuan Alaric udah di penjara. Marcus Huang juga. Ancaman udah hilang." Ara berbalik menghadap Zayn, matanya tajam. "Aku nggak akan bersembunyi lagi. Aku mau hidup."Zayn menghela napas panjang, tapi matanya melembut. "Baik. Tapi aku ikut kemana pun kamu pergi.""Deal."Mobil melaju pelan memasuki kawasan elite Jakarta Selatan. Ara menatap keluar jendela—pemandangan yang familiar tapi terasa asing setelah tiga bulan menghilang
2 Minggu Kemudian - Bali - Villa Pinggir PantaiAra duduk di balkon villa dengan buku di tangannya—menatap laut yang tenang. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya dengan lembut.Dua minggu terakhir adalah dua minggu yang... paradoks.Di satu sisi, ini adalah dua minggu paling tenang yang pernah dia alami. Tidak ada drama keluarga, tidak ada ancaman, hanya... dia dan Zayn.Tapi di sisi lain, ini juga dua minggu yang penuh kewaspadaan. Mereka tidak bisa keluar villa terlalu sering, tidak bisa pakai nama asli, tidak bisa kontak siapa pun kecuali Nyonya Alaric lewat nomor enkripsi."Ara, kamu baik-baik aja?" Zayn keluar dari dalam villa dengan segelas jus jeruk.Ara tersenyum—senyum yang lebih tulus dari dua minggu lalu. "Iya. Aku baik-baik aja. Malah... lebih baik dari sebelumnya."Zayn duduk di sampingnya, menyerahkan jus. "Kondisi bayinya?""Stabil. Nggak ada kram lagi sejak seminggu lalu." Ara memegang
Keesokan Pagi - Kamar (Dikunci dari Luar)Ara duduk di tepi ranjang dengan tangan memegang perutnya—mencoba menenangkan diri demi bayi di dalam perutnya.Zayn berjalan mondar-mandir dengan wajah yang sangat tegang—mencoba mencari cara keluar.Pintu terkunci dari luar. Jendela dikunci dengan teralis besi. Bahkan ponsel mereka sudah disita oleh bodyguard Tuan Alaric.Mereka benar-benar... tawanan."Zayn, duduk. Kamu bikin aku pusing," kata Ara pelan.Zayn berhenti, menatapnya dengan wajah penuh penyesalan. "Maafkan aku. Ini semua salahku. Aku yang bawa kamu ke keluarga gila ini—""Zayn, stop." Ara berdiri, mendekatinya. "Ini bukan salahmu. Ini salah ayahmu. Dan kita akan cari cara keluar dari sini. Bersama."Zayn memeluknya—pelukan yang sangat erat, seperti takut dia akan menghilang."Aku nggak akan biarkan dia sakitin kamu. Aku janji."Ketukan pelan di pintu membuat mereka t
Ruang Kerja Tuan Alaric - Lantai 3Zayn masuk ke ruangan yang familiar tapi sekarang terasa... asing. Ruangan di mana dia dulu belajar bisnis dari ayahnya. Ruangan di mana dia dulu mengagumi Tuan Alaric sebagai role model.Tapi sekarang... ruangan ini hanya terasa seperti sarang monster.Tuan Alaric duduk di balik meja besar dengan postur sempurna—seperti raja di tahtanya."Duduklah," katanya sambil menunjuk kursi di depan meja.Zayn tidak duduk. Dia berdiri—tegak, dengan tangan terkepal di samping tubuhnya."Aku nggak akan lama, Pa. Aku cuma mau tanya satu hal." Zayn menatap ayahnya dengan tatapan tajam. "Kenapa Papa hire Marcus Huang untuk bunuh Ara?"Hening.Tuan Alaric tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Zayn dengan ekspresi yang... tidak terbaca.Lalu dia tersenyum tipis—senyum yang mengerikan."Siapa yang bilang?""Itu nggak penting. Yang penting... apa itu be
Ara terbangun dengan kehangatan yang asing.Matanya perlahan terbuka—dan dia menyadari dia masih berada di pelukan Zayn. Kepala Zayn bersandar di headboard ranjang, mata tertutup, napasnya teratur. Dia tertidur dengan p
30 Menit Kemudian Zayn datang dengan wajah tegang dan membawa laptop serta beberapa dokumen. Dia langsung masuk tanpa mengetuk—mungkin karena panic, atau karena merasa punya hak."Ara, kita harus bicara." Zayn menutup p
Sore Hari di Kantor Urusan AgamaPernikahan mereka berlangsung sederhana. Sangat sederhana.Tidak ada keluarga. Tidak ada teman. Hanya Ara, Zayn, dua saksi yang disewa Zayn,
Keesokan Paginya, Ara bangun dengan mata bengkak. Dia menangis hampir sepanjang malam—menangis untuk kakaknya, untuk pengkhianatan Zevian, untuk kebohongan Zayn, dan untuk anak yang sekarang tumbuh di dalam perutnya.Ke







