MasukDua Tahun Lalu
"Ara, serius, kamu harus ikut."
Ara memutar bola matanya saat Zevian—sahabat sekaligus partner konten favoritnya—menarik lengannya dengan antusias. Mereka sedang berdiri di depan kafe langganan mereka, sore hari yang cerah dengan langit berwarna oranye keemasan.
"Aku nggak suka acara
Starbucks Plaza Indonesia jam 1:45 siang. Ara duduk di pojok dengan tangan memegang cup latte decaf—karena caffeine is a no-go untuk ibu hamil—dan mata scanning setiap orang yang masuk.Zayn duduk dua meja di belakangnya, pakai hoodie dan kacamata hitam seperti intel murahan. Ara hampir ketawa waktu lihat dia. Tapi sekarang bukan waktnya.Jam 2 tepat, seorang pria masuk.Tinggi, mungkin 185 cm. Berkulit tan, rambut dark blonde yang rapi, mata biru-grey yang dingin. Setelan jas Armani yang perfectly tailored. Wajahnya... tampan, dalam arti yang intimidating. Ada aura power di sekeliling dia.Matanya langsung menemukan Ara.Dia tersenyum—senyum yang tidak sampai ke matanya—dan berjalan mendekat."Nyonya Alaric." Dia mengulurkan tangan. "Ian Harrington."Ara menjabat tangannya dengan tegas. "Mr. Harrington. Atau... boleh aku panggil Ian?""Silakan." Ian duduk di depannya, memesan espresso dengan gaya santai
Tiga bulan setelah Bali, Ara berdiri di depan cermin kamar dengan tangan memegang perut yang sudah sangat besar—8 bulan. Hampir waktunya. Tapi kali ini, dia nggak takut lagi. Karena dia nggak sendirian."Kamu yakin mau keluar hari ini?" Zayn muncul di belakangnya lewat pantulan cermin, tangannya melingkar protektif di pinggang Ara. "Dokter bilang kamu harus istirahat."Ara tersenyum tipis. "Aku udah istirahat tiga bulan di Bali, Zayn. Aku bukan porselen yang akan pecah kalau kena angin.""Tapi—""Tuan Alaric udah di penjara. Marcus Huang juga. Ancaman udah hilang." Ara berbalik menghadap Zayn, matanya tajam. "Aku nggak akan bersembunyi lagi. Aku mau hidup."Zayn menghela napas panjang, tapi matanya melembut. "Baik. Tapi aku ikut kemana pun kamu pergi.""Deal."Mobil melaju pelan memasuki kawasan elite Jakarta Selatan. Ara menatap keluar jendela—pemandangan yang familiar tapi terasa asing setelah tiga bulan menghilang
2 Minggu Kemudian - Bali - Villa Pinggir PantaiAra duduk di balkon villa dengan buku di tangannya—menatap laut yang tenang. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya dengan lembut.Dua minggu terakhir adalah dua minggu yang... paradoks.Di satu sisi, ini adalah dua minggu paling tenang yang pernah dia alami. Tidak ada drama keluarga, tidak ada ancaman, hanya... dia dan Zayn.Tapi di sisi lain, ini juga dua minggu yang penuh kewaspadaan. Mereka tidak bisa keluar villa terlalu sering, tidak bisa pakai nama asli, tidak bisa kontak siapa pun kecuali Nyonya Alaric lewat nomor enkripsi."Ara, kamu baik-baik aja?" Zayn keluar dari dalam villa dengan segelas jus jeruk.Ara tersenyum—senyum yang lebih tulus dari dua minggu lalu. "Iya. Aku baik-baik aja. Malah... lebih baik dari sebelumnya."Zayn duduk di sampingnya, menyerahkan jus. "Kondisi bayinya?""Stabil. Nggak ada kram lagi sejak seminggu lalu." Ara memegang
Keesokan Pagi - Kamar (Dikunci dari Luar)Ara duduk di tepi ranjang dengan tangan memegang perutnya—mencoba menenangkan diri demi bayi di dalam perutnya.Zayn berjalan mondar-mandir dengan wajah yang sangat tegang—mencoba mencari cara keluar.Pintu terkunci dari luar. Jendela dikunci dengan teralis besi. Bahkan ponsel mereka sudah disita oleh bodyguard Tuan Alaric.Mereka benar-benar... tawanan."Zayn, duduk. Kamu bikin aku pusing," kata Ara pelan.Zayn berhenti, menatapnya dengan wajah penuh penyesalan. "Maafkan aku. Ini semua salahku. Aku yang bawa kamu ke keluarga gila ini—""Zayn, stop." Ara berdiri, mendekatinya. "Ini bukan salahmu. Ini salah ayahmu. Dan kita akan cari cara keluar dari sini. Bersama."Zayn memeluknya—pelukan yang sangat erat, seperti takut dia akan menghilang."Aku nggak akan biarkan dia sakitin kamu. Aku janji."Ketukan pelan di pintu membuat mereka t
Ruang Kerja Tuan Alaric - Lantai 3Zayn masuk ke ruangan yang familiar tapi sekarang terasa... asing. Ruangan di mana dia dulu belajar bisnis dari ayahnya. Ruangan di mana dia dulu mengagumi Tuan Alaric sebagai role model.Tapi sekarang... ruangan ini hanya terasa seperti sarang monster.Tuan Alaric duduk di balik meja besar dengan postur sempurna—seperti raja di tahtanya."Duduklah," katanya sambil menunjuk kursi di depan meja.Zayn tidak duduk. Dia berdiri—tegak, dengan tangan terkepal di samping tubuhnya."Aku nggak akan lama, Pa. Aku cuma mau tanya satu hal." Zayn menatap ayahnya dengan tatapan tajam. "Kenapa Papa hire Marcus Huang untuk bunuh Ara?"Hening.Tuan Alaric tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Zayn dengan ekspresi yang... tidak terbaca.Lalu dia tersenyum tipis—senyum yang mengerikan."Siapa yang bilang?""Itu nggak penting. Yang penting... apa itu be
Kafe - LanjutanZayn menatap Nadine dengan tatapan yang sulit dibaca—antara tidak percaya dan... takut."Apa maksudmu Papa planning sesuatu untuk Ara?" tanyanya dengan suara rendah.Nadine mengeluarkan tablet dari tasnya, membuka file, lalu memutar layar menghadap Zayn.Di layar itu ada rekaman CCTV—menunjukkan Tuan Alaric bertemu dengan seseorang di ruangan gelap. Orang itu memberikan amplop coklat."Ini direkam 3 hari lalu," kata Nadine. "Di warehouse lama milik perusahaan Alaric. Orang yang ketemu ayahmu itu... Marcus Huang. Debt collector yang punya... reputasi buruk."Zayn menegang. Dia kenal nama itu. Marcus Huang bukan sembarang debt collector—dia orang yang... tidak peduli cara."Kenapa Papa ketemu dia?"Nadine swipe ke foto berikutnya—foto dokumen kontrak yang blur tapi masih bisa terbaca beberapa kata kunci:"TARGET: ARA ANINDYA ALARIC"
Ara terbangun dengan perasaan... aneh.Semalam, setelah Zayn konfrontasi ibunya, mereka tidur dalam pelukan. Tapi pagi ini, Zayn sudah tidak ada di samping—mungkin sudah berangkat ke kantor.
Ara bangun dengan tubuh yang terasa berat. Tidurnya tidak nyenyak—mimpi tentang keluarganya, tentang Arga, tentang semua yang terjadi.Zayn sudah bangun lebih dulu, duduk di meja sarapan sambil membaca tablet. Beg
Pagi, Jam 9 Tepat ,di Apartemen AraDriver keluarga Alaric datang tepat waktu—seorang pria paruh baya dengan seragam hitam rapi dan sikap profesional yang kaku."Selam
Ara baru saja selesai mandi saat doorbell berbunyi berkali-kali dengan sangat... mendesak."Ara! Buka pintunya!" Suara Zayn dari luar—terdengar tegang.Ara membuka pintu den







