로그인Dua Tahun Lalu
"Ara, serius, kamu harus ikut."
Ara memutar bola matanya saat Zevian—sahabat sekaligus partner konten favoritnya—menarik lengannya dengan antusias. Mereka sedang berdiri di depan kafe langganan mereka, sore hari yang cerah dengan langit berwarna oranye keemasan.
"Aku nggak suka acara
Ruang Kerja Tuan Alaric - Lantai 3Zayn masuk ke ruangan yang familiar tapi sekarang terasa... asing. Ruangan di mana dia dulu belajar bisnis dari ayahnya. Ruangan di mana dia dulu mengagumi Tuan Alaric sebagai role model.Tapi sekarang... ruangan ini hanya terasa seperti sarang monster.Tuan Alaric duduk di balik meja besar dengan postur sempurna—seperti raja di tahtanya."Duduklah," katanya sambil menunjuk kursi di depan meja.Zayn tidak duduk. Dia berdiri—tegak, dengan tangan terkepal di samping tubuhnya."Aku nggak akan lama, Pa. Aku cuma mau tanya satu hal." Zayn menatap ayahnya dengan tatapan tajam. "Kenapa Papa hire Marcus Huang untuk bunuh Ara?"Hening.Tuan Alaric tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Zayn dengan ekspresi yang... tidak terbaca.Lalu dia tersenyum tipis—senyum yang mengerikan."Siapa yang bilang?""Itu nggak penting. Yang penting... apa itu be
Kafe - LanjutanZayn menatap Nadine dengan tatapan yang sulit dibaca—antara tidak percaya dan... takut."Apa maksudmu Papa planning sesuatu untuk Ara?" tanyanya dengan suara rendah.Nadine mengeluarkan tablet dari tasnya, membuka file, lalu memutar layar menghadap Zayn.Di layar itu ada rekaman CCTV—menunjukkan Tuan Alaric bertemu dengan seseorang di ruangan gelap. Orang itu memberikan amplop coklat."Ini direkam 3 hari lalu," kata Nadine. "Di warehouse lama milik perusahaan Alaric. Orang yang ketemu ayahmu itu... Marcus Huang. Debt collector yang punya... reputasi buruk."Zayn menegang. Dia kenal nama itu. Marcus Huang bukan sembarang debt collector—dia orang yang... tidak peduli cara."Kenapa Papa ketemu dia?"Nadine swipe ke foto berikutnya—foto dokumen kontrak yang blur tapi masih bisa terbaca beberapa kata kunci:"TARGET: ARA ANINDYA ALARIC"
3 Bulan Kemudian - PagiAra duduk di tepi ranjang dengan test pack di tangannya—menatap dua garis merah dengan jantung berdebar.Positif.Lagi.Dia hamil. Lagi.Tapi kali ini... rasanya berbeda.Bukan karena terpaksa. Bukan karena kecelakaan.Tapi karena... mereka berdua siap.Atau setidaknya, lebih siap dari sebelumnya.Pintu kamar mandi terbuka—Zayn masuk dengan wajah khawatir."Ara? Kamu udah dari tadi di dalam. Kamu baik-baik—" Dia berhenti saat melihat test pack di tangan Ara.Matanya melebar. "Itu..."Ara mengangguk pelan—air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Positif."Zayn terdiam beberapa detik—seperti otaknya mencoba memproses informasi itu.Lalu dia berlutut di depan Ara, memeluknya erat."Terima kasih," bisiknya dengan suara bergetar. "Terima kasih udah kasih aku kesempatan lagi. Kesempatan untuk... jadi ayah."Ara
2 Minggu Kemudian - Klinik PsikologAra duduk di sofa empuk dengan tangan terlipat di pangkuan—nervous. Zayn duduk di sampingnya dengan jarak yang... aman. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.Di depan mereka, seorang psikolog wanita berusia 40-an dengan kacamata dan senyum lembut—Dr. Sarah Kusuma."Jadi," kata Dr. Sarah sambil membuka notes. "Kalian datang ke sini karena... ingin memperbaiki hubungan pernikahan kalian setelah kehilangan anak dan... banyak konflik internal keluarga. Benar?"Ara mengangguk pelan. Zayn juga."Baik. Sebelum kita mulai, aku mau klarifikasi satu hal." Dr. Sarah menatap mereka berdua dengan serius. "Couple therapy bukan magic. Ini nggak akan instan bikin hubungan kalian baik-baik aja. Prosesnya... panjang. Menyakitkan. Dan kadang... brutal. Tapi kalau kalian berdua commit... ada harapan."Ara dan Zayn saling melirik—lalu mengangguk."Oke. Mari kita mulai." Dr. Sarah me
Ara duduk di sofa ruang tamu dengan selimut di bahu—masih gemetar. Zayn duduk di sampingnya, memegang tangannya erat—tidak mau melepasnya bahkan sedetik.Nadine duduk di sofa seberang—dengan dua bodyguard Zayn yang berdiri di sampingnya, memastikan dia tidak kabur.Wajah Nadine... hancur. Makeup luntur karena air mata, rambut berantakan, tatapannya... kosong."Aku sudah telepon polisi," kata Zayn dingin. "Mereka akan datang dalam 10 menit. Kamu akan ditangkap untuk penculikan, pengurungan, dan—""Lakukan itu," potong Nadine dengan suara yang sangat tenang—terlalu tenang. "Dan aku akan bocorkan semua rahasia keluarga Alaric ke media. Semuanya."Zayn menegang."Pembunuhan Anindya Larasati oleh Ezra atas perintah Tuan Alaric. Pembunuhan Arga Mahendra. Semua transaksi ilegal. Suap. Korupsi. Pencucian uang." Nadine menatapnya dengan senyum tipis yang mengerikan. "Aku punya bukti. Semua bukti. Rekaman, dokumen, saksi.
Keesokan Pagi - Kamar AraAra tidak tidur semalaman.Dia duduk di tepi ranjang, menatap pintu yang terkunci dengan pikiran yang berputar cepat.Nadine menawannya.Entah kenapa. Entah untuk apa.Tapi Ara tau—dia harus keluar dari sini. Secepatnya.Ketukan di pintu membuatnya tersentak."Ara, aku bawain sarapan." Suara Nadine—kembali lembut, seolah semalam tidak terjadi apa-apa.Pintu terbuka—Nadine masuk dengan nampan berisi roti, telur, dan susu.Ara menatapnya dengan waspada. "Kenapa kamu kunci pintunya semalam?"Nadine menaruh nampan di meja dengan tenang. "Aku udah bilang. Untuk keamanan. Kamu masih rapuh, Ara. Aku nggak mau kamu... kenapa-kenapa.""Aku nggak rapuh!" Ara berdiri, menatapnya dengan marah. "Dan aku nggak butuh dikunci kayak tahanan!"Nadine menatapnya lama—lalu tersenyum tipis."Kamu benar. Maaf. Aku terlalu protektif." Dia berjalan ke
Ara terbangun dengan perasaan... aneh.Semalam, setelah Zayn konfrontasi ibunya, mereka tidur dalam pelukan. Tapi pagi ini, Zayn sudah tidak ada di samping—mungkin sudah berangkat ke kantor.
Ara bangun dengan tubuh yang terasa berat. Tidurnya tidak nyenyak—mimpi tentang keluarganya, tentang Arga, tentang semua yang terjadi.Zayn sudah bangun lebih dulu, duduk di meja sarapan sambil membaca tablet. Beg
Pagi, Jam 9 Tepat ,di Apartemen AraDriver keluarga Alaric datang tepat waktu—seorang pria paruh baya dengan seragam hitam rapi dan sikap profesional yang kaku."Selam
Ara baru saja selesai mandi saat doorbell berbunyi berkali-kali dengan sangat... mendesak."Ara! Buka pintunya!" Suara Zayn dari luar—terdengar tegang.Ara membuka pintu den







