Di layar monitor di hadapan Rania, gambar siaran langsung dari ketiga lokasi—Solo, Padang, dan Bali—mulai berkedip tak menentu. Di setiap layar, di belakang Mbah Soto, Mak Rendang, dan Mang Gede, bayangan di tanah mulai memanjang secara tidak wajar, menggeliat dan berkumpul menjadi satu titik, seolah malam tiba-tiba bangkit untuk menelan siang. Layar itu kemudian mati, digantikan oleh logo “Jejak Rasa Nusantara” yang berkedip-kedip sebelum berubah menjadi hitam pekat.Di warung kecilnya di Jakarta, Radit terlonjak dari kursinya, tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan kursi plastik itu hingga buku-buku jarinya memutih. Di seberangnya, Luna menatap layar televisi yang kini senyap dengan napas tertahan. Gema ketakutannya dari enam bulan yang lalu—Mereka tahu. Dan mereka datang untuk memadamkannya—kini menjadi kenyataan yang disiarkan secara nasional.“Itu dia,” bisik Luna, suaranya serak. “Itu yang aku rasakan dulu. Apinya… mereka sedang dipadamkan.”Radit tidak menjawab. Matanya terp
Last Updated : 2025-12-17 Read more