Pertanyaan itu, ‘Siapa… kau?’, menggema bukan di dalam laboratorium steril yang terkunci rapat di menara Sinergi Pangan Asia, melainkan di dalam relung jiwa Radit setahun kemudian. Gema itu datang tanpa diundang, bergetar selaras dengan denting sendok kaldu yang beradu dengan bibir panci perunggu raksasa, sebuah pusaka yang telah menyaksikan pergantian empat generasi.Di hadapannya, Mbah Soto duduk di dingklik kayu yang sama tuanya dengan warung itu sendiri. Keriput di wajahnya kini tampak lebih dalam, seperti peta sungai kebijaksanaan yang telah mencapai muaranya. Namun, matanya—mata itu masih sejernih kaldu ayam kampung yang ia aduk perlahan-lahan, memancarkan keteduhan yang bisa menenangkan badai.“Sudah waktunya, Dit,” ujar Mbah Soto pelan, suaranya serak namun mantap. Asap dari kaldu yang mengepul naik, membawa aroma jahe, serai, dan ratusan tahun dedikasi, menyelimuti mereka dalam kabut yang sakral. “Setiap panci punya masanya. Setiap api butuh istirahat.”Radit hanya bisa menga
Zuletzt aktualisiert : 2025-12-18 Mehr lesen