Getaran dari anggukan tak wajar itu merambat melalui kaca, menembus udara, dan menusuk langsung ke sumsum tulang Radit. Beku. Waktu berhenti. Di dunia nyata, Adrian masih tersenyum, berbicara tentang kurikulum akademi dengan Luna yang mengangguk antusias. Namun, di dunia cermin yang dingin, sebuah persekongkolan sunyi baru saja disahkan antara dua bayangan—bayangan dirinya dan bayangan rivalnya. Sebuah aliansi neraka yang lahir dalam keheningan.Radit merasakan empedu naik ke kerongkongannya. Ia harus pergi. Sekarang.“Maaf, aku… aku ke toilet sebentar,” potong Radit tiba-tiba, suaranya terdengar tegang dan asing di telinganya sendiri.Luna dan Adrian menoleh, sedikit terkejut oleh interupsinya yang mendadak. “Kamu tidak apa-apa, Dit? Kamu pucat,” tanya Luna, alisnya berkerut cemas.“Hanya… terlalu banyak sampanye,” Radit berbohong, memaksakan seulas senyum yang terasa seperti retakan di wajahnya. “Perutku sedikit tidak beres.”Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan cepat, m
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-18 อ่านเพิ่มเติม