Begitu pintu lift terbuka, Clara merasakan lututnya hampir goyah. Sosok Sean berdiri di tengah lobi—tegak, diam, dan tampak seperti badai yang hanya menunggu waktu untuk meledak. Wajahnya gelap, rahangnya mengeras, namun yang paling membuat Clara terdiam adalah matanya.Bukan sekadar marah. Ada kekecewaan yang dibalut dengan tatapan dingin menusuk. Dan tatapan itu menghujam tepat ke dada Clara, membuat napasnya tercekat.Regan, yang berdiri di sampingnya, langsung menggenggam tangan Clara lebih erat, seolah menyanggah tubuhnya yang melemah. Pegangan itu memberi Clara sedikit keberanian.Sean melangkah cepat mendekat. Langkah-langkahnya terdengar berat, namun begitu ia berhenti tepat di depan mereka, suaranya justru bergetar tipis—bukan karena takut, tapi karena ia sedang menahan diri agar tidak kehilangan kendali.“Aku menunggumu semalaman.”Suara itu rendah, tajam, dan tertahan. Dan ketika tatapannya jatuh pada tangan Regan yang menggenggam Clara, udara di sekitar mereka seperti men
Last Updated : 2025-11-29 Read more