“Oh?”Aura yang mendengar bisikan jahil Mikayla seketika tersentak. Dengan gerakan canggung, ia segera menarik rambut panjangnya ke depan untuk menutupi bagian leher.Gadis itu hanya bisa menahan senyum geli melihat wajah ibu tirinya yang memerah. Aura menyenggol kaki Mika di bawah meja, memberi kode keras agar anak itu tidak bicara macam-macam yang bisa memicu pertanyaan keluarga.Oma Eliyas yang memperhatikan dari ujung meja hanya bisa tersenyum simpul. Ada rasa syukur yang membuncah di dadanya melihat menantu dan cucunya itu kini sudah seperti bestie.“Ada apa sih, Mika? Kok bisik-bisik gitu?” tanya Oma Eliyas penuh selidik, persis seperti yang ditakutkan Aura.“Oh, tidak ada apa-apa, Ma. Ayo kita makan saja, kasihan yang lain sudah menunggu lama, pasti sudah pada lapar,” sahut Aura cepat, mencoba mengalihkan pembicaraan.Namun, Pras dengan polosnya—atau mungkin sengaja ingin menggoda—malah berujar, “Mama kan tanya Mika, Sayang. Kok kamu yang semangat jawab?”“Ahaha, Mika tadi cuma
Dernière mise à jour : 2026-01-28 Read More