“Pak, Veny tak bisa diselamatkan.”Kalimat itu menembus telinga Pras tepat di pergantian malam waktu California. Suaranya terdengar datar, profesional, namun maknanya seperti palu yang menghantam dada.Di seberang sana, derap langkah dan obrolan orang-orang di sekitar Rico masih terdengar ramai. Sirine meraung-raung, memekakkan telinga, saling bersahutan. Jakarta masih pukul 15.00—tepat dua menit setelah dokter menyatakan bahwa Veny tak lagi bernapas.Pras menghela napas panjang, lalu tertunduk sejenak. Ada jeda hening yang ia ciptakan sendiri, seolah memberi ruang bagi sebuah akhir. Sebuah penghormatan terakhir bagi wanita yang pernah berjalan di salah satu lorong hidupnya.Veny—dengan polemik keluarga, ego yang keras kepala, dan luka-luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Dulu, di mata Pras, semua itu tampak seperti keteguhan seorang perempuan mandiri, kuat, dan tak mudah tunduk. Itulah yang dulu menariknya. Kini, semua itu justru menorehkan kisah pahit di penutup hidupnya.“Semog
Dernière mise à jour : 2026-02-08 Read More