Erwin menghentikan sepeda motornya tepat di depan warung tenda yang menjual pecel ayam dan lele. Lampu bohlam temaram bergoyang pelan tertiup angin malam, sementara aroma sambal dan ayam goreng menyeruak menggoda.“Pecel mau, Ras?” tanya Erwin sebelum mematikan mesin motornya.“Boleh, Bang,” sahut Laras cepat. Kebetulan, ia memang pecinta makanan ini—atau lebih tepatnya, pecinta hampir semua jenis makanan sejak hidup sendiri jauh dari keluarga.“Oke. Ayam atau lele?”“Apa aja, Bang.”“Mas Azam?”“Mas Azam kenapa, Bang?”“Ayam atau lele?”“Pffft!” Laras menahan tawa. Otaknya mendadak melayang jauh dari maksud pertanyaan Erwin.“Lah, malah ketawa.”“Mas Azam orang, Bang. Bukan ayam, apalagi lele!”Erwin spontan tergelak.“Hahaha, iya ya! Maksud aku, Mas Azam mau dipesenin pecel ayam atau lele?”“Hehehe… iya, iya, aku paham. Otakku aja yang rada error. Apa aja, Bang. Dia pemakan segala juga, kayak aku.”“Oke.”Erwin mengiringi Laras masuk ke dalam tenda. Ia memesan tiga porsi pecel ayam
Read more