Erwin duduk di teras rumah sambil menyeruput teh hangat. Udara pagi di kampung halamannya terasa sejuk, tetapi pikirannya sudah melayang ke Jakarta. Sudah satu minggu ia berada di sini, menjaga Umi Layla yang jatuh sakit. Kini kondisi ibunya mulai membaik, dan ia pun harus segera kembali untuk membuka kembali rumah makan Padang miliknya. Ia tak bisa membiarkan pelanggannya pergi ke tempat lain. Sebelum Erwin sempat mengemukakan rencananya untuk kembali ke Jakarta, Umi Layla lebih dulu membuka pembicaraan. "Segeralah mencari istri, Win," suara lembut namun tegas ibunya membuat Erwin terdiam. "Kedua adikmu, Mira dan Linda, sudah menikah. Tinggal kamu saja yang jadi pikiran Umi. Usiamu sudah matang dan juga cukup mapan. Jadi, tunggu apa lagi?" Erwin menghela napas. "Umi, urusan jodoh itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Lagi pula..." "Jangan pikirkan Nadia lagi," potong Umi Layla. "Dia sudah memilih jalan hidupnya sendiri dengan men
Baca selengkapnya