***Helikopter itu akhirnya terangkat dari tanah, melesat menembus langit dengan kecepatan tinggi. Di kursi kemudi, Lucian mencengkeram joystick dengan tangan gemetar. Napasnya terdengar tidak stabil, bukan karena kelelahan, tetapi karena rasa panik yang tidak mampu ia sembunyikan.Setiap beberapa detik, tatapan Lucian terarah pada lengan Alexa yang terbalut perban darurat. Darah masih merembes tipis di antara lilitan kain, menandakan lukanya cukup dalam.“Sakit?” tanya Lucian, suaranya serak dan terdengar berbeda dari biasanya. Tidak ada kesombongan, tidak ada dingin; hanya kekawatiran. Alexa, yang sedang menahan denyut nyeri pada lengannya, menoleh perlahan. Nada Lucian yang tidak biasanya membuatnya turut menurunkan nada bicara.“Sedikit,” balas Alexa pelan. Meski ia berusaha kuat, raut wajahnya tidak mampu sepenuhnya menutupi rasa perih.Lucian menelan ludah. Ia mempercepat laju helikopter, membuat mesin meraung lebih keras.
Last Updated : 2025-12-09 Read more