Gara beranjak dari duduknya. Kursi kulit itu berdecit pelan, seperti protes yang tertahan. Ia tidak menoleh lagi, baik pada sosok Sadewa yang duduk mematung, maupun pada tumpukan map yang menganga di atas meja.Map-map itu bukan sekadar kertas, tapi nisan bagi kepercayaan Gara yang baru saja mati.“Kenapa tidak kamu bawa semua buktinya sekarang?”Suara Sadewa terdengar tenang, namun ada getar kehati-hatian di sana. Seolah pria tua itu tahu keputusan yang diambil putranya barusan bukan keputusan kecil, dan satu kata yang salah bisa menghancurkan sisa-sisa ketegaran putranya.Gara berhenti sejenak. Pandangannya jatuh ke meja. Kertas-kertas berserakan, foto cetak, tanggal, potongan waktu dari rekaman CCTV. Tidak detail, tidak perlu, sekilas saja sudah cukup.Pola itu terlalu jelas. Alur uang yang mengalir deras, pertemuan-pertemuan rahasia, dan senyum yang sama di tempat-tempat berbeda. Pram dan Amara, merangkai kisah yang rapi, terencana, sekaligus durjana.“Aku sudah lihat cukup,” sahu
最終更新日 : 2025-12-23 続きを読む