Erang pelan lolos dari bibir Pram yang pecah-pecah, namun suara itu segera tertelan oleh dengung monoton monitor jantung, sebuah ritme mekanis yang seolah mengejek detak jantungnya yang tak beraturan.Ruang rawat VVIP ini terasa terlalu luas, terlalu asing untuk satu tubuh yang biasanya menguasai ruang rapat. Kini, ia hanya seonggok daging yang dikhianati oleh tulangnya sendiri.Pram mencoba menggeser pinggulnya. Sial. Sebuah kesalahan fatal.Rasa nyeri menusuk tajam dari rusuk yang retak, merambat seperti kawat berduri ke ulu hati. Napasnya tersendat, tercekat di tenggorokan yang kering. Secara naluriah, jemarinya meraba sisi ranjang, mencari kehangatan tangan yang biasanya ada di sana.Dulu, dalam setiap sakit yang ia anggap remeh, Mita akan duduk di sana, tenang menyediakan air hangat dengan suhu yang pas, menyodorkan obat tepat di detik jarum jam berdentang, dan membisikkan kalimat pendek yang menenangkan.“Kamu fokus sembuh,” suara lembut itu menggema, memantul di dinding otaknya
Terakhir Diperbarui : 2025-12-28 Baca selengkapnya