Dinding-dinding gedung di sekitar Bundaran HI simulasi itu kini tidak lagi berupa beton, melainkan lembaran-lembaran cahaya biru yang bergetar. Ruang di antara gedung-gedung itu menyempit, menciptakan lorong-lorong sempit yang terus bergeser secara geometris. Tri, Adrian, Bayu, dan Liora berlari di tengah labirin yang seolah memiliki nyawa sendiri ini. Suara langkah kaki mereka bergema, namun frekuensinya terasa ganjil, seolah-olah suara itu datang dari masa depan atau masa lalu."Jangan melihat ke belakang!" teriak Adrian. "Lazarus sedang mencoba memetakan penyesalan kita untuk membangun rintangan baru. Fokus pada titik cahaya di tengah kubah!"Namun, labirin itu tidak membiarkan mereka lolos dengan mudah. Saat mereka melewati sebuah tikungan, realitas di sekeliling Bayu tiba-tiba berubah. Ia tidak lagi berada di Jakarta bawah laut, melainkan kembali ke sebuah bunker sempit di Menteng bertahun-tahun yang lalu. Di hadapannya, seorang teman seperjuangan yang ia piki
Terakhir Diperbarui : 2026-01-28 Baca selengkapnya