Udara di dalam ruang analisis yang terkunci mendadak terasa sedingin es. Tri berdiri terpaku di depan monitor, matanya tak berkedip menatap layar yang menampilkan sosok di koridor luar. Sosok itu, seorang wanita yang secara anatomi identik dengan dirinya berdiri dengan keanggunan yang mengerikan. Setiap inci wajahnya, dari lekuk rahang hingga garis mata, adalah cerminan sempurna dari Tri, namun ada sesuatu yang sangat salah pada tatapannya. Matanya yang sepenuhnya hitam pekat, tanpa selaput putih, seolah-olah merupakan lubang tanpa dasar yang menyedot cahaya di sekitarnya."Dina! Adrian! Apakah kalian mendengarku?" Tri berteriak ke arah interkom, namun hanya suara dengung statis yang kembali padanya."Mereka tidak bisa mendengarmu, Kakak," suara dari pengeras suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jernih, membawa nada ejekan yang dingin. "Mereka sedang sibuk menjinakkan resonansi di dek bawah, sebuah distraksi kecil yang kuberikan agar kita bisa bicara... dari
Terakhir Diperbarui : 2026-01-10 Baca selengkapnya