Luna terpaku. Rencana awalnya adalah mengusir Jordan setelah satu jam berlalu, tapi melihat wajah lelah Jordan dari jarak sedekat itu, amarahnya menguap entah ke mana. Dia mencoba menggerakkan bahunya agar posisinya lebih nyaman, tapi Jordan justru menggumam tidak jelas dalam tidurnya dan makin menyembunyikan wajah di ceruk leher Luna.“Jordan! Bangun!” Luna mengguncang badan Jordan lebih keras. Jordan justru kembali mempererat pelukan, seolah-olah sedang memeluk bantal. Tampak tenang dan nyaman.“Jangan pura-pura tidur!”Tidak. Jordan memang benar-benar tidur. Sejak awal dia sudah bersiap tidur di kamarnya. Tapi, karena memikirkan ucapannya pagi tadi, dia terus terjaga, tak bisa memejamkan mata.Begitu akhirnya bertemu Luna dan mengatakan semua perasaan, dia merasa lega. Hangat tubuh Luna sangat nyaman sampai membuatnya ketiduran.Hingga cubitan kecil di lengan membangunkannya. Matanya sedikit terbuka, masih terasa begitu berat.“Sebentar lagi …,” ucap Jordan lirih dan tanpa sada
Read more