Luna menyentakkan tubuhnya dengan kasar. Napasnya memburu, bukan karena lelah, melainkan karena kombinasi antara rasa malu yang membakar pipinya. Dia melirik sekilas ke arah sekitar. Beberapa karyawan Aura Tech yang sedang menuju kendaraan mereka tampak memperlambat langkah, melihat mereka berpelukan.“Lepaskan, Jordan! Lihat di mana kamu sekarang,” desis Luna dengan suara rendah yang tajam.Jordan akhirnya melepaskan dekapannya meski sorot matanya masih menyiratkan keengganan. Dia pun baru menyadari sekitarnya, mendadak merasa canggung.“Masuk dulu. Sebelum lebih banyak orang yang melihat kita.”Tanpa pikir panjang, Luna masuk mobil ibu Jordan itu. Dia bahkan tidak menoleh lagi pada mobil pribadinya yang masih terparkir rapi di slot eksekutif, enggan melewati para karyawan lain. “Aku akan mengantarmu sampai rumah,” ucap Jordan tegas, mengabaikan protes tersirat dari raut wajah Luna.“Jangan sembarangan bertindak. Kamu tahu, tidak boleh ada orang yang
Magbasa pa