Share

Bab 148

last update Last Updated: 2026-01-25 08:48:36

Setelah momen pagi yang penuh canda, Serina beranjak ke dapur untuk membuatkan kopi. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Damar. Ia meraih ponselnya yang bergetar di atas nakas sejak tadi. Melihat nama "Felix” di layar, Damar segera melangkah menuju balkon kamar dan menutup pintu kaca rapat-rapat.

"Halo, Felix? Bagaimana kabarnya?" bisik Damar sambil sesekali melirik ke arah pintu dapur, memastikan Serina tidak mendengarnya.

Suara Felix terdengar sangat antusias dari seberang sana. "Kabar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!   Bab 152 TAMAT

    Suasana di dalam aula besar itu mendadak hening, hanya suara musik instrumen yang mengalun lirih, memberikan ruang bagi emosi yang meluap-luap. Bapak Surya kemudian meraih tangan kanan Serina, sementara Beni berdiri di sisi kiri adiknya. Mereka berdua bersiap mengapit Serina untuk berjalan melewati aisle yang bertabur kelopak bunga. Damar memberikan ruang. Ia berjalan beberapa langkah lebih dulu menuju altar pelaminan, lalu berbalik badan untuk menyambut pengantinnya. Langkah kaki Surya terdengar mantap di atas lantai marmer, meskipun sedikit lambat. Setiap langkah yang diambil Surya adalah bukti perjuangannya melawan rasa sakit di Jerman, demi satu momen ini. Serina berjalan dengan kepala tegak, air matanya kini telah kering, digantikan oleh binar kebahagiaan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Begitu mereka sampai di depan Damar, Surya menghentikan langkahnya. Ia mengambil tangan Serina, lalu menatap Damar dengan tatapan seorang ayah yang menyerahkan harta paling berharganya

  • Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!   Bab 151

    Alunan musik orchestra yang lembut mulai menggema di seluruh penjuru aula besar yang didekorasi dengan ribuan bunga lili putih. Pintu kayu jati yang kokoh itu masih tertutup rapat, namun di baliknya, Serina bisa merasakan ribuan pasang mata tamu undangan sudah menanti. Serina menggandeng lengan Damar dengan sangat erat, jemarinya yang terbalut sarung tangan brokat tampak sedikit bergetar. Napasnya pendek-pendek, mencoba menahan emosi yang bergejolak di dadanya. "Mas... aku sangat gugup," bisik Serina lirih. "Rasanya kakiku lemas sekali. Aku tidak tahu apakah aku sanggup berjalan sampai ke pelaminan tanpa terlihat gemetar." Damar berhenti sejenak, ia menoleh dan menatap Serina dengan tatapan yang begitu menenangkan. Ia meletakkan telapak tangannya di atas jemari Serina yang melingkar di lengannya, memberikan kehangatan yang seketika meredakan sedikit badai di hati istrinya. "Tatap aku, Serina," ucap Damar dengan suara baritonnya yang tenang. "Jangan lihat ke kiri atau ke kanan. Cuk

  • Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!   Bab 150

    Keesokan paginya, saat Serina masih terlelap karena kelelahan setelah malam yang panjang, Damar sudah berdiri di balkon apartemen dengan ponsel di telinganya. Udara pagi yang dingin tidak menyurutkan ketegasannya dalam memberikan instruksi terakhir. "Felix, bagaimana?" tanya Damar dengan suara rendah. "Semua sudah di pesawat, Tuan. Bapak Surya, Ibu Farah, dan tim medis pendamping sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Estimasi mendarat sore ini. Saya sudah menyiapkan ambulans pribadi dan kursi roda tercanggih agar Bapak Surya tidak kelelahan," lapor Felix dari seberang sana. "Bagus. Pastikan mereka langsung dibawa ke hotel rahasia di dekat gedung resepsi. Jangan biarkan satu pun kerabat atau media tahu keberadaan mereka. Aku ingin Serina melihat mereka pertama kali tepat saat pintu gedung dibuka," perintah Damar. Setelah menutup telepon dari Felix, Damar langsung menghubungi Bram. "Bram, urusan Beni sudah sampai mana?" "Beres, Tuan Damar. Berkat jaminan dan pengaruh Anda, Beni

  • Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!   Bab 149

    Malam itu, apartemen terasa begitu sunyi. Hanya suara detak jam dinding dan desis kompor yang menemani Serina di dapur. Ia sedang memotong sayuran untuk makan malam, namun gerakannya lambat, seolah pikirannya melayang jauh melintasi samudra hingga ke Jerman, lalu terjebak di balik jeruji besi penjara. Serina meletakkan pisaunya. Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke meja dapur. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang memantulkan bayangan dirinya sendiri, seorang calon pengantin yang tampak begitu kesepian. "Bapak... Ibu..." bisiknya lirih. Bayangan wajah Bapaknya, Surya, yang terakhir kali ia lihat dalam keadaan lemah, terus menghantuinya. Meski Damar selalu bilang Bapak baik-baik saja di bawah perawatan Felix dan Ibu Farah di Jerman, rasa rindu itu tetap terasa seperti lubang besar di hatinya. Ia membayangkan betapa indahnya jika Bapak bisa menggandeng tangannya menuju pelaminan, bukan hanya hadir melalui panggilan video yang dingin. Belum lagi soal Beni. S

  • Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!   Bab 148

    Setelah momen pagi yang penuh canda, Serina beranjak ke dapur untuk membuatkan kopi. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Damar. Ia meraih ponselnya yang bergetar di atas nakas sejak tadi. Melihat nama "Felix” di layar, Damar segera melangkah menuju balkon kamar dan menutup pintu kaca rapat-rapat."Halo, Felix? Bagaimana kabarnya?" bisik Damar sambil sesekali melirik ke arah pintu dapur, memastikan Serina tidak mendengarnya.Suara Felix terdengar sangat antusias dari seberang sana. "Kabar luar biasa, Tuan Damar! Operasi berjalan sangat sukses. Bapak Surya memiliki tekad yang sangat kuat untuk pulih. Dia sudah mulai latihan berjalan dengan kaki palsu barunya pagi ini. Dokter di sini sangat takjub dengan kemajuannya."Damar mengembuskan napas lega, senyum lebar terukir di wajahnya. "Syukurlah. Apakah dia sudah bisa melakukan perjalanan jauh dalam waktu dekat?""Sesuai rencana kita," jawab Felix mantap. "Minggu depan dia sudah bisa terbang kembali ke Indonesia. Dia terus bilang kal

  • Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!   Bab 147

    Perjalanan pulang terasa jauh lebih singkat karena hati mereka telah menyatu. Sepanjang jalan, tangan mereka tidak pernah terlepas, saling bertautan di atas tuas transmisi seolah ada magnet yang enggan memisahkan.Begitu pintu apartemen terbuka dan lampu otomatis menyala remang-remang, suasana mendadak berubah menjadi sangat elektrik. Damar tidak langsung melepaskan jasnya. Ia justru menutup pintu, menguncinya, dan langsung menyandarkan Serina ke daun pintu yang kokoh.Serina tersentak kecil, napasnya tertahan saat melihat tatapan Damar yang begitu intens dan dalam, tatapan yang sama seperti di restoran tadi, namun kali ini jauh lebih menuntut."Mas..." bisik Serina, suaranya sedikit bergetar.Damar meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Serina, mengurung wanita itu dalam dunianya. "Tadi di restoran, kamu bilang tidak akan meragukan tempatmu lagi di hatiku, kan?"Serina mengangguk pelan, jari-jarinya meremas ujung kemeja Damar. "Iya, Mas.""Dan kamu juga bilang, kamu tidak akan men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status