“Nggak perlu pakai teknologi, saya sudah tau siapa yang buat ulah, Kak Mahen.”Ivy tertunduk. Kalau memang itu jadi syarat untuk diterima, ia memutuskan melupakan niatnya bergabung. Ia masih ingin memberi waktu bagi Jesslyn untuk berubah. Dahi Mahen berkerut. “Kamu nggak berniat balas dendam atau apa gitu? Mereka mungkin orang yang sama, yang sudah kirim email prank itu.”Ivy tersenyum lebar. “Bukan mungkin, tetapi memang sama, Kak. Cuma, manusia butuh kesempatan kedua, kan?”“Ha! Nobel banget kamu.” Mahen menarik lagi foto-foto itu dan menyobeknya. Ivy tak berani menatap Mahen. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Suara sang ketua umum itu terdengar tak suka dengan keputusan Ivy.Tak lama terdengar suara berdecit. Kursi Mahen terdorong karena ia berdiri. Spontan Ivy mendongak untuk mengecek mood sang ketum.Wajah Mahen terlihat santai, tetapi matanya masih menatap Ivy dalam-dalam. Lagi, Mahen menambahkan, “BEM nggak akan diam aja, Iv. Kalau sekali lagi orang ini berulah, dia akan ber
Terakhir Diperbarui : 2025-11-28 Baca selengkapnya