登入“Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini, Lex?”Jeremy—ayah Lexton, langsung menurunkan kaki dari atas meja kerjanya. Padahal ia tengah bersantai, tetapi Lexton datang dengan rusuh. Putra satu-satunya itu langsung membanting beberapa dokumen ke atas meja kopi yang ada di tengah ruangan.“Dad, kau harus lihat kelakuan sepupumu!” tukas Lexton kesal. Dahi Jeremy berkerut bingung. “Sepupu? Sepupu yang mana? Bicara yang jelas, Lex!”“Aunt Lana.” Nama itu keluar dari mulut Lexton dengan nada murka. “Bukti dia sengaja block jalan Tanverragold untuk menangkan tambang emas.” “Nggak mungkin, Lex!” Jeremy tidak bisa percaya langsung. Dihampirinya sofa tempat Lexton duduk, lalu menghempaskan diri di samping putranya. “Atas dasar apa dia melakukan hal yang merugikan perusahaan?”Namun, Lexton mendengus geli. “Semua itu cuma supaya aku terpojok dan terpaksa ambil proyek dari keluarga Lothern. Dia mau aku terikat hubungan sama putri mereka. Amelia.”Kali ini, netra Jeremy membulat seketika. “Gila
“Jangan gila, Om Lex!” tukas Ivy sambil meremas pipi Lexton dari kedua sisi.Lagi, Ivy menjelaskan alasan penolakannya. “Aku nggak mau kuliahku terganggu dengan urusan rumah tangga baru nanti.”Mendengar itu, bibir Lexton maju 5 centi. “Memangnya bakal ada masalah apa sih? Kan berarti itu baru awal-awal pernikahan.”Ivy memalingkan wajahnya, jauh dari tangkapan netra Lexton. Ia bisa merasakan hawa panas menjalan sampai ke dahi, karena membayangkan kehidupan pernikahan. Dengan polos Ivy menjawab, “Justru karena baru awal. Ada cerita kalau pengantin baru bahkan nggak bisa turun dari ranjang karena malam pertama.”“Hahaha!” Lexton tergelak seperti orang gila. Ia benar-benar tidak menyangka kalau gadis mudanya itu sampai mempertimbangkan kondisi tersebut. “Oke! Kurasa itu masuk akal. Aku memang nggak berniat mengakhiri malam pertama hanya 1 kali saja.”Dahi Ivy berkerut, tidak setuju. Namun, apa lagi yang bisa dia katakan. Kalau Lexton sudah menikahinya, ia wajib memenuhi kebutuhan biolo
“Wow!”Ivy tertegun di tempatnya dengan wajah penuh antusias. Sementara itu, wanita asing tadi tersenyum seolah ia sudah memenangkan pertarungan.“Nggak nyangka aku bakal denger kalimat itu dari Om Lex,” gumam Ivy yang masih terdiam di tempatnya. “Ini nggak seperti yang aku bayangin, katanya?”Lexton segera berdiri dan memeluk Ivy. Ia mencoba menjelaskan, tetapi Ivy berkomentar lebih dulu.“Jadi ini ya? Contoh perselingkuhan di kantor?” tanya Ivy dengan wajah penuh rasa penasaran. Mendengar komentar dan melihat wajah Ivy yang tidak marah membuat Lexton tergelak. Mereka bahkan tidak mengindahkan keberadaan wanita asing yang berniat merebut Lexton dari Ivy.“First of all, aku nggak selingkuh, Sayang,” ujar Lexton mengoreksi ucapan Ivy. “Kamu dateng pas perempuan ini pindah duduk tiba-tiba di deketku.”Ivy mengangguk. “Masuk akal juga alasannya. Bisa juga ya istri-istri percaya begitu, tapi pasti bakal ragu juga. Nggak ada bukti kalau ucapan suaminya bener.”Lexton semakin terkekeh. Ia
‘Wow! Wow! Wow! Gue kayak nonton drama siaran langsung!’ batin Ivy bersemangat. Kemudian, suara wanita itu kembali terdengar menjawab teleponnya. “Aunt Lana bilang dia udah kasih tahu Lexton soal aku.”‘Aunt Lana?!’ pekik Ivy dalam hati. Ivy pun bisa menebak alasan dibalik kepercayaan diri wanita yang ada di luar bilik toilet itu. ‘Jadi gitu. Kayaknya tantenya Om Lex nggak setuju sama keberadaanku.’“Udah ya, Ma! Mel mau naik dulu ketemu Lexton.” Tubuh Ivy mengejang singkat, berusaha menahan gerakan agar tidak menimbulkan bunyi apapun. Ia menunggu sampai wanita itu keluar dari toilet. Ketika pintu terdengar terbuka dan menutup lagi, Ivy langsung menghembuskan napas panjang penuh kelegaan. ‘Duh! Padahal tadi mau pulang rencananya,’ keluh Ivy sambil menurunkan celana untuk menyelesaikan urusan pribadinya. Ia menimbang ulang rencananya untuk pulang. ‘Tapi perempuan tadi bikin penasaran. Dia mau ngapain aja ya kalau ketemu Om Lex?’Setelah selesai dengan urusannya di toilet, Ivy pun
“Lex, apa sih masalahmu?!” tukas Giana kesal. Pasalnya, di rapat bulanan seluruh perusahaan di bawah Tanverra Holdings hari ini, Lexton sama sekali tidak bisa fokus. Tidak merespon laporan-laporan yang diberikan jajaran manajemen. Lexton menghela napas panjang. Wajahnya hampir seperti anak ayam kehilangan induknya. Seperti tidak merasa bersalah dengan tingkahnya itu, ia merajuk, “Ivy nggak balas pesanku sejak semalam.”Informasi itu spontan membuat Giana berdiri dengan raut wajah khawatir bercampur kesal. “Ivy ngilang?! Terus kenapa kamu masih duduk-duduk di sini?! Buruan cari!”“Katanya dia lagi kerja,” rengek Lexton lagi, seperti anak kecil. “Tapi dia sudah nggak balas pesan sejak semalam.”Mendengar cerita lengkapnya, Giana memijat kening. Ia kira Ivy tidak bisa dihubungi karena hal buruk terjadi, tapi ternyata hanya kebucinan adik lelakinya itu. “Kalau kerja ya mau gimana lagi, Lex!” tukas Giana kesal. “Jangan manja kamu!”Lexton berdecak acuh kemudian berkata, “Kamu udah tua!
“TIdak ada!” elak Ivy. Menjauh dari Lexton, Ivy segera berlari ke arah Giana yang tengah mengeliminasi beberapa gaun yang jelas-jelas tidak cocok untuknya.Dari kejauhan, Lexton hanya terkekeh geli melihat tingkah malu-malu kekasihnya. Ia berencana menyusul, tetapi Leah menghadang. “Wait! Batasmu sampai sini saja, Gentleman!”Lexton mengernyitkan dahi. “Dan? Kenapa ada aturan begitu?”“Legenda mengatakan, gaun pengantin nggak boleh dilihat calon suaminya sampai hari pernikahan!” terang Leah dengan wajah angkuh. “Jadi, area ini terlarang buat kamu, Lex!”Lexton ingin menimpali, tetapi ia juga tahu legenda seperti itu. Dan katanya, itu berpengaruh pada kelangsungan pernikahan mereka. Pada akhirnya ia berbalik sambil menggeram kesal dan pergi begitu saja. Terkekeh geli, Leah puas mengerjai adik lelakinya itu. “Nah, saatnya main boneka!” ujar Leah, menutup pintu ruangan dan bergabung dengan kedua kakak dan Ivy. Hampir 5 jam Ivy mencoba gaun. Tenaganya seperti tersedot habis, setelahny
“Siapa yang berani—”Ucapan mereka terhenti melihat wajah familiar yang sering sekali mondar-mandir di layar kaca. Bukan karena dia adalah artis, tetapi karena lelaki berparas seperti boyband itu adalah pebisnis kaya raya. Media selalu menyoroti kehidupan seluruh anggota keluarga Tan. Satu dari b
“Woi! Si Nerd udah mabok, guys!”Suara teriakan itu samar terdengar oleh Ivy. Namun, tidak ada yang bisa dilakukannya. Dialah gadis yang mereka sebut ‘nerd’ dan yang sengaja dibuat mabuk oleh mereka.Entah apalagi yang mereka tambahkan di dalam minuman itu, hingga membuat Ivy tidak bisa bergerak, a
“Nona Ivy, Kepala keluarga Tan memanggil Anda.”Ivy segera mematikan ponselnya dan mengikuti kepala pelayan pria yang menjemputnya. Walau terlihat tenang seolah cuek, sebenarnya hati Ivy berdebar cukup cepat. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan ditanyakan padanya. Sang kepala pelayan mengetu
“Oi, Nerd! Cariin tanda tangan kakak tingkat di BEM dong!”“Sekalian gue!”Semester pertama dimulai dengan kegiatan pengenalan kampus dan atributnya. Universitas Arkamaya menyelenggarakan masa orientasi hanya dalam 1 hari. Tugasnya pun hanya mengumpulkan 30 tanda tangan kakak tingkat mereka. Tidak







