“Ampun?!” Lexton mendengus geli. Lagi, Lexton berkata, “Anak lelaki Anda sudah mengganggu orang yang penting bagi saya. Dan sekarang saya harus memberi maaf?!” Kornelis Omar. Pemilik perusahaan besar yang berkecimpung dalam bidang konstruksi itu, adalah ayah dari Carlo. “Saya harus bagaimana, Tuan Lexton?! Saya—” “Keluar dari kampus itu atau dikeluarkan, pilih saja!” potong Lexton malas berdebat panjang. Lagipula, asistennya sudah mengetuk pergelangan tangan, tanda jam keberangkatan pesawat semakin dekat. Sebelum menutup sambungan telepon itu, Lexton melontarkan ancamannya. “Kalau masih berani mengganggu, saya tidak segan menghancurkan perusahaan Anda, Pak Kornelis!” Tanpa menunggu jawaban Kornelis, Lexton memutus sambungan telepon dan menyerahkan benda itu lagi pada sang asisten. “Ayo, berangkat!” “Baik, Tuan!” *** Sementara itu, di kediaman Adinata. Ivy baru saja tiba di rumah, karena ia tadi dipaksa Samantha untuk ikut pergi ke kafe. Alasannya demi m
Terakhir Diperbarui : 2025-12-11 Baca selengkapnya