Barra menatap pantulan tubuh di kaca. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menyemprotkan parfum beberapa kali agar lebih wangi. Lelaki itu berbalik, menatap sang istri yang masih terlelap di ranjang.“Fani.” Barra memanggil dengan lembut. Sebab, tidak biasanya sang istri terlambat bangun seperti ini. Apalagi ia masih tidur hingga Barra ingin berangkat kerja pagi ini.“Fani.” Lelaki itu kembali memanggil. Ia mendekat ke ranjang, menepuk wajah sang istri dengan lembut, membangunkan.Namun, tidak ada respons sama sekali. Terlebih wajahnya yang terlihat lebih pucat dari biasanya.“Fan, hey!” Barra mengeraskan panggilan dan tepukan. Namun, tetap saja Fani tidak merespons sama sekali. Seketika lelaki itu dibuat panik setengah mati. Ia bawa Fani ke dalam gendongan, melarikannya keluar dari kamar.“Bi! Bi!” Barra memanggil dengan nada tinggi. Sebab, ia benar-benar panik dengan keadaan Fani.“Ya, Tuan.” Salah satu pekerja datang menghadap.“Nanti tolong kau antar Issa ke sekola
Terakhir Diperbarui : 2025-12-23 Baca selengkapnya