Erina berdiri di depan pintu rumah keluarga Anderson, matanya tetap penuh tekad. Ia menekan bel sekali, dua kali, tiga kali. Tidak ada sahutan. Ia mengetuk pintu keras-keras, tapi tetap tidak ada respons dari dalam.'Apa mereka nggak ada di rumah ya?' pikirnya sedikit kecewa.Tapi Erina ingat sesuatu. Ia tahu pin pintu rumah ini dari Evan. Dengan ragu, ia memasukkan kode pin itu. Pintu terbuka."Permisi," sapa Erina pelan sambil melangkah masuk, suaranya hampir tenggelam oleh deru hujan di luar.Di dalam rumah terasa sepi. Tidak ada suara sama sekali. Hanya suara detak jam dinding dan gemericik air hujan di jendela. Ia berjalan lebih dalam, matanya mengamati setiap sudut ruangan yang luas dan megah."Pada ke mana, sih?" gumamnya pelan.Merasa tak sabar, akhirnya Erina berjalan menuju salah satu kamar di lantai satu, itu adalah kamar Evan. Tapi saat di lorong menuju kamar tersebut, telinganya menangkap suara aneh. Samar-samar, tapi jelas."Ahh... Mas, pelan-pelan..."Erina membeku di te
Read more