Meyra tertawa pelan, terdengar hambar. Dia kini beralih menatap Evan dengan raut wajah tak percaya."Kamu bilang apa? Maafin? Mas, aku korban di sini. Kalau aku sampai mati gara-gara perempuan itu, kamu masih mau bela dia?!""Aku bukannya ngebela, tapi situasinya sekarang bakal merugikan kita semua," balas Evan terus berdalih."Kamu tau, Erina itu aktris papan atas. Kalau sampai media tau semua ini, mereka pasti nyari tau identitas korban. Itu bisa berimbas ke keluarga kita, perusahaan Papa juga bakal terseret," lanjut Evan.Meyra mengerutkan alis, rahangnya sedikit mengeras.‘Dia emang pandai bersilat lidah. Pake bawa-bawa perusahaan Papa,’ desisnya kesal dalam hati."Jadi intinya, kamu nggak peduli istri kamu hampir mati?" ucap Meyra terdengar sarkas.Evan gelisah. "Bukan gitu, Meyra. Aku cuma mikirin konsekuensinya. Kalau kita laporkan, proses hukum bisa berlarut-larut, media bakal jadi hakim publik. Dia mungkin cuma dapat hukuman ringan karena kelalaian.""Terus?" Meyra menyilangka
続きを読む