"Kok ke sini? Mas mau ngapain?" Damian tidak menjawab. Entahlah, semenjak pertanyaan perihal cemburu tadi Jasmine lontarkan, Damian lebih banyak diam selama perjalanan.Hingga akhirnya mobil Damian malah merapat memasuki sebuah butik gaun bridal terkenal di kotanya. Seingat Jasmine, jangankan membeli gaun di sini, sekedar untuk menyewanya saja harus mengeluarkan uang yang lumayan. Sangat tidak cocok untuk kalangan biasa seperti Jasmine. Meskipun kini ayahnya sudah menjabat sebagai gubernur, uang jajan Jasmine tetap tidak berubah. Selain mengandalkan uang lukisan, Jasmine hanya bisa berharap pads Renan. "Mas...." Jasmine tidak bergerak. Tangannya menahan pergelangan tangan Damian, membuat pria itu refleks berhenti."Ada apa?" Damian akhirnya bersuara. Namun, Jasmine langsung menekuk wajahnya. Raut Damian sangat tidak nyaman untuk dilihat. Alih-alih tersenyum hangat seperti biasa, sorot matanya dingin. Senyumnya mahal sekali. Jasmine jadi malas. "Kenapa diam? Kamu mau bicara apa?
Last Updated : 2025-12-31 Read more